Welcome To My Blog

Cari apa yang kamu butuhkan disini!

Sabtu, 24 Maret 2012

Detikcom


Detikcom
Detikcom ialah sebuah portal web yang berisi berita aktual dan artikel daring di Indonesia. Detikcom merupakan salah satu situs berita terpopuler di Indonesia. Berbeda dari situs-situs berita berbahasa Indonesia lainnya, detikcom hanya mempunyai edisi daring dan menggantungkan pendapatan dari bidang iklan. Meskipun begitu, detikcom merupakan yang terdepan dalam hal berita-berita baru (breaking news). Sejak tanggal 3 Agustus 2011, DetikCom menjadi bagian dari PT Trans Corporation, salah satu anak perusahaan CT Corp.
Situs – situs
·         Detikcom merupakan portal kepada situs-situs:
·         detikNews
·         detikFinance
·         detikFood
·         detikHot
·         detiki-Net
·         detikSport
·         detikHealth
·         detikShop
·         detikTV
·         detikSurabaya
·         detikBandung
·         detikforum
·         blogdetik
serta beberapa fasilitas lainnya

Sejarah
Server detikcom sebenarnya sudah siap diakses pada 30 Mei 1998, namun mulai daring dengan sajian lengkap pada 9 Juli 1998. Tanggal 9 Juli itu akhirnya ditetapkan sebagai hari lahir Detikcom yang didirikanBudiono Darsono (eks wartawan DeTik), Yayan Sopyan (eks wartawan DeTik), Abdul Rahman (mantan wartawan Tempo), dan Didi Nugrahadi. Semula peliputan utama detikcom terfokus pada berita politik,ekonomi, dan teknologi informasi. Baru setelah situasi politik mulai reda dan ekonomi mulai membaik, detikcom memutuskan untuk juga melampirkan berita hiburan, dan olahraga.
Dari situlah kemudian tercetus keinginan membentuk detikcom yang update-nya tidak lagi menggunakan karakteristik media cetak yang harian, mingguan, bulanan. Yang dijual detikcom adalah breaking news. Dengan bertumpu pada vivid description macam ini detikcom melesat sebagai situs informasi digital paling populer di kalangan users internet.

Kepemilikan
Pada 3 Agustus 2011 CT Corp mengakuisisi detikcom (PT Agranet Multicitra Siberkom/Agrakom) . Mulai pada tanggal itulah secara resmi detikcom berada di bawah Trans Corp. Chairul Tanjung, pemilik CT Corpmembeli detikcom secara total (100 persen) dengan nilai US$60 juta atau Rp 521-540 miliar. Setelah diambilalih, maka selanjutnya jajaran direksi akan diisi oleh pihak-pihak dari Trans Corp — sebagai perpanjangan tangan CT Corp di ranah media. Dan komisaris Utama dijabat Jenderal (Purn) Bimantoro, mantan Kapolri, yang saat ini juga menjabat sebagai Komisaris Utama Carrefour Indonesia, yang juga dimiliki Chairul Tanjung.
Sebelum diakuisisi oleh CT Corp, saham detikcom dimiliki oleh Agranet Tiger Investment dan Mitsui & Co. Agranet memiliki 59% saham di DetikCom, dan sisanya dimiliki oleh Tiger 39%, dan Mitsui 2%.

Perkembangan Jumlah Pengunjung
Pada Juli 1998 situs detikcom per harinya menerima 30.000 hits (ukuran jumlah pengunjung ke sebuah situs) dengan sekitar 2.500 user (pelanggan Internet). Sembilan bulan kemudian, Maret 1999, hits per harinya naik tujuh kali lipat, tepatnya rata-rata 214.000 hits per hari atau 6.420.000 hits per bulan dengan 32.000 user. Pada bulan Juni 1999, angka itu naik lagi menjadi 536.000 hits per hari dengan user mencapai 40.000. Terakhir, hits detikcom mencapai 2,5 juta lebih per harinya.
Selain perhitungan hits, detikcom masih memiliki alat ukur lainnya yang sampai sejauh ini disepakati sebagai ukuran yang mendekati seberapa besar potensi yang dimiliki sebuah situs. Ukuran itu adalah page view (jumlah halaman yang diakses). Page view detikcom sekarang mencapai 3 juta per harinya. sekarang detik.com menempati posisi ke empat tertinggi dari alexa.com untuk seluruh kontent di Indonesia.

Tentang detikcom.
Apa keunggulannya, mengapa ia tetap eksis. Tidak sedikit yang mencela (soal teknologinya, desainnya, iklannya yang mengganggu, archivenya yang katanya tak bisa diakses setelah dua pekan). Di balik seluruh kelemahannya, kompas.com dan lainnya dianggap belum bisa mengikuti detikcom
Koran Kompas yang begitu hebat brand awareness-nya di cetak, ketika masuk ke online melalui Kompas.com/Kompas.co.id, tak mampu menyaingi Detikcom. Baik dari sisi trafik maupun income, saat ini Kompas.com masih kalah jauh dibanding Detikcom. Apa kurangnya Kompas? Nama besar, ia punya. Reporter dan tim redaksi yang handal, mereka ada. Manajemen yang tangguh, mereka pasti punya. Bahkan uang untuk investasi pun mestinya jauh berlimpah ketimbang Detikcom. Lantas, mengapa hingga kini pun mereka tidak mampu mendekati, apalagi menyaingi Detikcom?
Untuk skala nasional, media berita online memang tidak dapat dipungkiri telah dikuasai oleh detik.com. Oleh karena itu, kita bisa mulai menguasai pangsa pasar media online lokal saja yang masih lowong dan terbuka lebar dengan segala fasilitas yang lengkap dan bermanfaat bagi pembacanya. Alasannya adalah:
1.nama detik sudah “mendarah daging”
2. fitur iklan yang tidak mengganggu pembaca.
3. dan tentu saja berita yang selalu update
Alasan lain kenapa detik.com unggul, simple aja. karena detik punya keunikan.mulai dari namanya yang nggak “umum”, kemudian dari tampilan warnanya yang norak, memang dari pandangan seorang webdesigner detik itu designnya nggak ok banget deh, but hey.. its work, pengunjung jadi lebih kenal bahwa itu adalah tampilan nya detik.com, walaupun nggak oke lama2 pengunjung jadi terbiasa dan suka (sama dengan saya yang anti kangen band tapi setelah dengerin beberapa kali jadi suka juga sama musiknya…halah… hehehe..) …. kompas.com…okezone.com mungkin bisa bangga bahwa tampilannya lebih bersih dari detik tapi mereka nggak punya keunikan dan ciri khas.
Terlepas dari apakah media online yang baru muncul selalu “harus” bisa mengalahkan existing (online) media, untuk membuat sebuah online (news) media, sering melupakan 3 aspek utama:
- Jurnalisme, kaidah jurnalistik yang digunakan kebanyakan masih menggunakan pola lama (yang diterapkan di “media konvensional”).
- Komunikasi, “mengingkari” teori-teori dasar komunikasi, bahwa pesan adalah media itu sendiri, artinya media dibuat memang untuk publik, bukan untuk (selera dan ego) pengelolanya.
- Teknologi, menempatkan teknologi sebagai pembawa pesan, bukan penyampai pesan. Artinya teknologi hanya dipandang sebagai carrier.
Faktor lain adalah faktor “masa”. Membuat media yang relevan dengan masa ketika media itu dibuat, adalah titik tolak untuk keberhasilan media tersebut. Titik lontar berikutnya adalah kemampuan visioner untuk “membaca” masa selanjutnya
Faktor terakhir adalah keinginan publik: apakah sekarang sudah membutuhkan online (news) media lebih dari satu? Jika jawabnya BELUM, maka detikcom akan tetap berkibar

Tidak ada komentar:

Posting Komentar